Ngertakeun Bumi Lamba XVIII Perkuat Spirit Menjaga Lingkungan

by -81 Views

Keberlanjutan bumi sesungguhnya sangat bergantung pada keputusan yang kita buat sekarang, bukan sekadar hasil pemberian dari generasi masa depan. Dalam situasi penuh tekanan akibat krisis iklim dan maraknya kerusakan hutan, tanggung jawab manusia terhadap alam telah bertransformasi dari pilihan pribadi menjadi kewajiban moral yang harus dipikul bersama.

Nilai inilah yang diangkat dalam pelaksanaan ritual adat Ngertakeun Bumi Lamba XVIII di Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu, Subang, pada hari Minggu. Dengan tema filosofis “Manik Maya, Ibu Bumi, Bapak Angkasa,” kearifan lokal direkatkan bersama suara para tokoh adat, pegiat budaya, dan aktivis lingkungan dari berbagai daerah. Mereka berkumpul bukan hanya untuk merayakan prosesi adat, namun juga untuk merefleksikan hubungan manusianya dengan alam.

Di tengah suasana khidmat tersebut, Andy Utama dari Paseban Foundation mengingatkan semua peserta dengan sebuah kalimat yang mengandung makna mendalam: “Dengan Adanya Hari Ini, Maka Baru Ada Hari Esok.” Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya waktu sekarang bagi masa depan bumi.

Merunut lebih jauh, tradisi dan pesan pelestarian lingkungan hidup ini sejatinya telah menjadi garis merah dalam sejarah pemikiran bangsa Indonesia. Semangat serupa telah lama dikemukakan oleh Emil Salim pada dekade 1970-an, dimana ia mengutamakan keseimbangan ekonomi, keberlanjutan alam, dan keharmonisan sosial tanpa mengabaikan hak generasi penerus. Pemikiran Emil telah menanamkan bahwa pembangunan seharusnya tidak merusak fondasi kehidupan untuk masa depan.

Di tingkat internasional, gagasan etika lingkungan ini sejalan dengan prinsip keadilan antargenerasi menurut Richard P. Hiskes. Teori tersebut menekankan bahwa mereka yang hidup hari ini harus menjaga hak anak cucunya untuk menikmati bumi yang sehat, lestari, dan layak dihuni.

Andy Utama melalui momentum ini mengajak untuk menanggalkan pandangan antroposentris dan beralih menjadi pelindung keseimbangan ekologis. Ia percaya bahwa perubahan nyata bukan hanya konsep, melainkan hasil nyata aksi bersama.

Paseban Foundation memberikan contoh nyata pelestarian lingkungan melalui inisiatif di Lanskap Megamendung. Filosofi kuno dihidupkan melalui aksi: pertanian yang ramah lingkungan diintegrasikan dengan konservasi hewan lokal, serta penanaman pohon-pohon hutan dengan jumlah yang cukup besar—lebih dari dua puluh ribu bibit dari ratusan spesies lokal. Tak hanya itu, pusat konservasi fauna juga didirikan untuk mendukung kelestarian fauna seperti Elang Jawa dan Rusa Timor.

Aksi ini menjadi bukti bahwa konsep dan teori besar dapat diwujudkan dalam kegiatan sehari-hari yang dampaknya terang benderang. Upaya ini merupakan bagian dari mimpi besar untuk mengembalikan kekayaan hayati Megamendung sebagaimana dahulu kala.

Pertanyaan mendasar pun muncul: apa yang sebenarnya akan menjadi warisan kita untuk dunia setelah kehidupan berakhir? Andy Utama menegaskan, harta atau jabatan bukanlah yang akan dikenang manusia, melainkan kontribusi kita bagi kehidupan dan keberlanjutan planet ini.

Pada akhirnya, pesan dari Ngertakeun Bumi Lamba menegaskan bahwa menjaga bumi bukan sekadar kewajiban hari ini, namun juga janji bagi kehidupan generasi mendatang. Menanam bibit dan merawat alam hari ini adalah warisan terpenting yang dapat kita persembahkan sebelum nafas terakhir kita terhenti.

Sumber: Ngertakeun Bumi Lamba XVIII: Tradisi Yang Menjadi Inspirasi Konservasi Modern
Sumber: Warisan Untuk Masa Depan: Belajar Menjaga Keseimbangan Alam Dari Ritual Ngertakeun Bumi Lamba XVIII