Lembah Aviary Paseban Jadi Simbol Pelestarian Berkelanjutan

by -132 Views

Upaya pelestarian alam di tengah derasnya pembangunan kembali mendapat dukungan dengan peresmian Lembah Aviary Paseban di Megamendung, Bogor, Jawa Barat, oleh Kementerian Kehutanan. Lokasi ini kini menjadi salah satu titik sentral dalam strategi pemulihan ekosistem dan konservasi satwa, termasuk penangkaran rusa timor yang sudah berjalan di dalam kawasan tersebut.

Selain itu, langkah penting turut diambil dengan pelepasliaran dua Elang Jawa ke habitat alaminya di wilayah Megamendung. Direktur Jenderal KSDAE, Prof Setyawan Pudyatmoko, memimpin prosesi pelepasliaran sekaligus menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak demi menjaga keanekaragaman hayati dan integritas kawasan. Inisiatif seperti ini disebutnya sebagai model pelestarian baru yang menggabungkan pengelolaan in-situ dan ex-situ dalam satu kawasan secara terintegrasi.

Harapan besar muncul dari integrasi Lembah Aviary Paseban dengan kawasan sekitar Megamendung. Dengan demikian, konektivitas antar habitat dapat semakin kuat, dan tujuan konservasi jangka panjang lebih mudah tercapai. Prof Setyawan juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam mempertahankan kelestarian lingkungan Megamendung, mulai dari Yayasan Paseban, Perum Perhutani, lembaga konservasi, pemerintah daerah, hingga masyarakat setempat.

Yayasan Paseban, sebagai penggerak utama di kawasan ini, menegaskan komitmennya untuk terus mengembalikan fungsi ekologis Megamendung seperti masa lampau. Andy Utama, pembina Yayasan Paseban, menyatakan bahwa usaha di sini adalah upaya nyata memulihkan kualitas habitat satwa liar serta peran kawasan sebagai penjaga sumber air. Ia yakin, walaupun mustahil mengulang masa lalu sepenuhnya, perbaikan fungsi ekologis bisa dilakukan dan diwariskan untuk generasi mendatang.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Wiratno selaku penasihat Yayasan Paseban. Ia menegaskan Megamendung memiliki peran vital yang melampaui batas administratif, yakni sebagai bagian dari bentang alam yang mendukung Cagar Biosfer Cibodas. Keunikan lanskap ini juga menjadikannya penyangga lingkungan yang manfaatnya menjangkau wilayah hingga ke hilir.

Momen pelepasliaran Elang Jawa menandai tonggak penting konservasi di kawasan ini. Dua individu Elang Jawa, seekor betina bernama Agni dan jantan bernama Beta, dilepaskan ke alam setelah melalui masa rehabilitasi dan adaptasi yang panjang. Agni, yang berasal dari Pusat Konservasi Elang Kamojang, dipantau dengan penanda GPS agar proses adaptasinya dapat dievaluasi. Beta sendiri telah lulus standar teknis pelepasliaran setelah rehabilitasi di Yayasan Konservasi Cikananga.

Kerja panjang berbagai lembaga konservasi membuahkan hasil nyata dalam mengembalikan Elang Jawa ke habitat aslinya. Pelepasliaran ini sekaligus menunjukkan pentingnya fasilitas konservasi ex-situ yang berfungsi sebagai pendukung upaya pemulihan populasi satwa liar di alam, bukan sebagai tujuan akhir. Fasilitas penangkaran rusa timor dan aviary di Paseban juga diresmikan, menambah nilai strategis kawasan sebagai pusat pendidikan lingkungan dan penelitian.

Keberhasilan seluruh aktivitas konservasi ini sangat bergantung pada kesiapan habitat dan dukungan masyarakat sekitar. Keterlibatan aktif pemerintah daerah, akademisi, komunitas, serta sektor usaha menjadi faktor penentu demi menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pulihnya populasi satwa liar.

Megamendung sendiri mempunyai posisi penting sebagai bagian bentang alam vital di Pulau Jawa. Kawasan ini menyatu dengan Cagar Biosfer Cibodas yang ditetapkan UNESCO dan menjadi sumber jasa lingkungan penting seperti tata air, penyimpan karbon, hingga menjaga habitat spesies satwa. Keanekaragaman hayati yang tercatat tinggi di lanskap ini meliputi berbagai satwa langka dan burung hutan, termasuk Elang Jawa, Surili Jawa, dan sebagainya.

Penelitian ekonomi juga menyimpulkan manfaat kawasan yang dikelola lestari sangat besar, jauh lebih tinggi dari sekadar pemanfaatan ekonomi jangka pendek. Hasil kajian Total Economic Valuation (TEV) menunjukkan kawasan seperti Megamendung menjadi pilar penyangga kesejahteraan masyarakat hulu hingga hilir.

Mulai dari pengelolaan pertanian organik sekitar 16 tahun yang lalu, kini kawasan Paseban tumbuh menjadi gerakan pelestarian lanskap yang terintegrasi. Bersama para mitra, Yayasan Paseban secara konsisten menanam pohon dalam rangka pemulihan ekosistem dan memperkuat fungsi ekologis wilayah. Sebanyak lebih dari 21.800 pohon dari ratusan jenis telah berhasil ditanam, menegaskan dedikasi terhadap pemulihan kawasan.

Di sisi lain, pengembangan kerja sama dengan Perum Perhutani atas lahan seluas 100 hektare terus diupayakan guna memperluas dampak konservasi, menciptakan ruang hidup yang lebih aman bagi satwa liar dan menjawab tantangan pembangunan yang berkelanjutan. Semangat serupa diharapkan menyebar ke kawasan lain, sehingga pelestarian alam tetap menjadi prioritas di tengah kemajuan zaman.

Sumber: Lembah Aviary Paseban Diresmikan Kemenhut, Megamendung Diperkuat Jadi Kawasan Konservasi Satwa
Sumber: Kemenhut Resmikan Lembah Aviary Paseban, Harapan Pelestrian Alam Di Masa Depan