Universitas Indonesia Jadi Pusat Diskusi Ancaman Global Terkini

by -586 Views

Di tengah meningkatnya pembicaraan mengenai potensi terjadinya perang dunia, terutama di media sosial dan percakapan masyarakat, kekhawatiran semacam ini menjadi perbincangan hangat di seluruh lapisan masyarakat. Berangkat dari isu ini, Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek menyelenggarakan IR Youth Talks#1 dengan tujuan memperdalam pemahaman mengenai posisi Indonesia di tengah gejolak geopolitik global.

Acara ini diadakan pada 21 April 2026 di Auditorium Suwantji Sisworahardjo FISIP UI, menghadirkan pembicara-pembicara yang memaparkan kondisi dan tantangan global yang harus dihadapi Indonesia. Tema diskusi menyorot “Indonesia dalam Dinamika Geopolitik Global” sebagai upaya memahami peran serta kesiapan bangsa di tengah ketidaktentuan situasi dunia.

Anggy Pasaribu, seorang jurnalis dan juga alumni Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan, memulai diskusi dengan mengajak audiens untuk bertanya apakah keresahan tentang pecahnya perang dunia sebenarnya didasarkan pada realita atau sekadar ketakutan semata. Ia menekankan pentingnya tidak terburu-buru menarik kesimpulan serta mengajak generasi muda untuk bersikap kritis namun tetap tenang dalam memaknai berbagai isu internasional yang berkembang.

Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso dari Lemhannas RI menambah sudut pandang dengan mengingatkan bahwa generasi muda sebaiknya tidak hanyut dalam spekulasi, melainkan mengutamakan kesiapan menghadapi berbagai bentuk krisis global. Ia menjelaskan bahwa pendekatan net assessment yang dilakukan di Lemhannas bertujuan memetakan potensi ancaman dan kerentanan, serta merancang skenario terhadap apa yang mungkin terjadi.

Dari hasil kajian tersebut, diketahui bahwa ketergantungan Indonesia pada sumber energi dan pangan luar negeri menjadi salah satu titik lemah, terlebih lagi Indonesia berada di kawasan strategis yang kerap menjadi ajang rivalitas kekuatan besar dunia. Efek dari perubahan global, baik fluktuasi harga ataupun gejolak politik internasional, dapat langsung berimbas pada stabilitas dan keamanan nasional.

Aloysius juga menyampaikan bahwa ketahanan ideologi, terutama melalui pengamalan Pancasila, adalah modal utama bangsa untuk tetap kokoh ketika dunia penuh tekanan eksternal. Ia menegaskan pentingnya menjaga kekuatan identitas nasional agar tidak mudah terpecah hanya karena terpengaruh perkembangan global.

Sementara itu, Broto Wardoyo dari Universitas Indonesia mengingatkan agar tidak melihat dinamika global hanya dari permukaan atau sebatas respons terhadap krisis. Ia mendorong peserta memahami setiap krisis yang muncul sebagai bagian dari proses transformasi tatanan dunia, bukan tanda bahwa perang dunia akan terjadi segera. Menurutnya, tantangan seperti krisis energi, fluktuasi politik, hingga tekanan ekonomi saling terhubung membentuk pola yang rumit.

Broto juga menyoroti peran figur seperti Donald Trump yang kebijakan-kebijakannya turut mempertegas ketidakpastian global. Sebagai solusi, ia memperkenalkan konsep resilience-based hedging, yakni mengombinasikan kemampuan adaptasi hubungan luar negeri dan penguatan kapasitas nasional secara paralel agar Indonesia lebih tangguh ketika menghadapi guncangan.

Aktivitas IR Youth Talks ini menjadi jembatan dialog antara mahasiswa, akademisi, dan pembuat kebijakan dari enam universitas anggota AIHII, seperti UI, Universitas Pertamina, Binus, Moestopo, Jayabaya, dan Budi Luhur. Jeanne Francoise dari President University menegaskan pentingnya forum-forum seperti ini dalam membumikan ilmu Hubungan Internasional kepada mahasiswa lintas kampus, agar keterlibatan anak muda terhadap isu global semakin luas.

Diskusi pun menegaskan bahwa globalisasi dan ancaman dunia tidak lagi menjadi wacana sempit akademisi, melainkan hal yang sangat relevan bagi kehidupan generasi muda Indonesia yang kelak akan menjadi pemangku kepentingan di masa depan.

Menjelang penutupan acara, Anggy mengingatkan pentingnya menjaga ruang publik yang sehat dalam berdialog, di mana kritik boleh dan perlu namun harus disampaikan secara santun dan pada tempatnya. Ia mengajak para peserta untuk aktif menyampaikan ide dan gagasan secara membangun, bukan sekadar reaktif.

Anggy juga menekankan bahwa keterlibatan generasi muda bisa dimulai dengan pemahaman mendalam sebelum mengambil tindakan nyata di ruang publik. “Yang pasti, dunia memang penuh ketidakpastian, tapi daripada larut dalam rasa was-was, seyogianya kita fokus mengasah kesiapan dan memperkuat kesadaran kolektif, sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan yang mungkin muncul ke depan,” pungkasnya dengan optimisme.

Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko