Pendidikan SMA di Indonesia sering dikaitkan dengan kesuksesan anak-anak, terutama melalui jalur sekolah negeri. Namun, Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Timur, Lilik Hendarwati, menyoroti pandangan tersebut yang seringkali keliru. Menurutnya, sukses anak tidak hanya ditentukan oleh masuk atau tidaknya ke sekolah negeri, karena baik sekolah negeri maupun swasta dapat mencetak anak-anak unggul. Permasalahannya lebih pada akses dan biaya pendidikan.
Dalam mengatasi masalah akses dan biaya, Lilik mendorong alokasi anggaran untuk memberikan beasiswa SMA dan SMK. PKS bahkan berkomitmen untuk menyalurkan 50 ribu beasiswa senilai Rp1 juta per anak pada tahun ini. Dana tersebut tidak hanya untuk biaya sekolah, tetapi juga untuk keperluan seperti seragam, buku, dan kebutuhan belajar lainnya.
Namun, di lapangan, masih terjadi praktik kecurangan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Banyak orang tua terpaksa menggunakan jasa calo agar anak bisa diterima di SMA negeri favorit. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan masih memiliki kekurangan yang perlu diperbaiki, sehingga beasiswa menjadi penting dalam meringankan beban biaya orang tua dan menyediakan akses yang adil bagi semua.
Pengamat pendidikan menilai, pemerintah harus meningkatkan pengawasan dalam sistem PPDB, transparansi data, dan memberikan jalur afirmasi bagi keluarga yang kurang mampu. Tanpa upaya tersebut, peluang terjadinya praktik curang dalam penerimaan peserta didik baru tetap terbuka, dan ketidakadilan dalam pendidikan sulit untuk dihapuskan.
